Mei 15, 2021

sulselnews.com

Informasi Aktual dan Berimbang

Ketua DPW MOI SulSel mengecam Pemukulan Wartawan yang terjadi di Takalar.

2 min read
foto : Muslimin Ketua DPW MOI SULAWESI SELATAN

Takalar – SULSELNEWS.COM,- Pemukulan Wartawan kembali terjadi di Kabupaten Takalar. Ketua DPW MOI Sulawesi Selatan sangat menyesalkan kejadian tersebut. Muslimin menyatakan bahwa tidakan ini adalah bentuk arogansi dan sangat tidak terpuji. Wartawan adalah sebuah pekerjaan ýang menuntut kerja keras dan punya resiko tinggi.

Seperti yang kita ketahui bahwa kejadian berawal saat wartawan Radarekspres.com Muhammad Arief mengunjungi SPBU Pertamina Kalappo, Mangadu, Mangarabombang, Kabupaten Takalar 31/01/2020. Mampir untuk buang air kecil didalam kamar mandi /wc. Namun saat keluar dari kamar mandi saya melihat karyawan pertamina sedang mengisi BBM melalui Jerigen sehingga saya langsung mengambil gambar dari arah kejauhan.” ungkap Arief

Tampa sadar Arief pun diteriaki oleh salah satu warga untuk tidak mengambil gambar. Salah seorang warga menghampiri Arief dan meminta untuk menghapus foto tersebut. Tiba-tiba dari arah lain orang tak dikenal (OTK) langsung memukul Arief dengan tinju di wajah.

“Saya wartawan pak, saya wartawan pak, ungkap Arief saat dipukul dan di tarik Kartu Anggota (KTA) nya oleh warga yang tidak terima Jerigennya di foto saat pengisian BBM melalui Jerigen.

Atas kejadian tersebut kami Selaku Ketua Perkumpulan Pengusaha Media Online Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan. Mengutuk keras oknum- oknum yang melakukan tidakan Preman dan meminta kepada Kepolisian WILAYAH Kabupaten Takalar. Untuk segera menangkap orang – orang yang terlibat pemukulan Wartawan.

Wartawan mempunyai Undang- Undang dalam memperoleh sebuah informasi yang tertuang dan sudah di atur dalam UU No. 40 Tahun 1999  tentang Pers ( Pasal 18 Ayat 1) Menghambat, menghalangi wartawan melaksanakan tugas untuk mencari, memperoleh dan menyampaikan gagasan serta informasi.

Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) di pidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah).”

Kita semua sangat menyayangkan atas sikap warga yang di nilai bersikap arogansi terhadap seorang jurnalis yang seharusnya tidak bersikap demikian.

“Kami harap Aparat Kepolisian Polres Takalar memberikan tindakan tegas kepada pelaku penganiayaan terhadap wartawan”. ()